jump to navigation

Pinter vs cerdas February 12, 2008

Posted by siswosadpriyono in Tulisan ringan.
trackback

(catatankecilku, 12 Februari 2008).  Dulu.. di layar TVRI acara cerdas cermat merupakan acara yang sangat dinantikan. Acara bernuansa pendidikan ini memberikan ragam hiburan dan pengetahuan. Cerdas cermat merupakan acara yang dikemas dalam kuis, dengan peserta tiga kelompok siswa. Dalam tiap kelompok ABC tiap siswa dipandu oleh host yang memberikan berbagai pertanyaan tentang pengetahuan umum. Peserta yang berhasil menjawab setiap pertanyaan akan mendapatkan nilai. Juara ditentukan jumlah skor akhir. Selain acara cerdas cermat juga muncul acara cepat tepat. Acara ini model dan konsepnya sama dengan cerdas cermat. Namun acara cepat tepat lebih ke pengetahuan eksaksta. Kecepatan menghitung dan mengaplikasikan rumus dalam setiap pertanyaan. Sekarang, acara pendidikan sudah jarang atao malah hilang dari peredaran layar kaca. Paradigma yang berkembang dimasyarakat, bahwa anak yang sekolah ya sudah pasti pinter. Para siswa yang digembleng dalam pendidikan sekolah akan menghasilkan siswa yang mempunyai pengetahuan yang luas. Banyak Sarjana ato S2 akhirnya nganggur karena nggak punya kesempatan kerja. Namanya juga sarjana mana ada yang blo’on. Dalam perkembangan pinter harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Cerdas diartikan bagaimana menggunakan ilmunya (kepinterannya) untuk bisa mencari uang. Maka bermunculan lah program-program di layar kaca yang melibatkan anak-anak, remaja dan orang tua yang menghasilkan uang. Program Pildacil, AFI junior, Mama Seleb, Indonesian Idol, Idola Cilik dan kontes-kontes lain slalu mengiming-imingi juaranya dengan kibasan uang, mobil dan popularitas. Mereka berusaha keras untuk memberikan terbaik bagi para pendukungnya, dan imbasnya mereka bisa mendapatkan dukungannya. Yang akhirnya bisa mengantarkan mereka menjadi juara. Kalo dah juara smua bisa mereka dapatkan, uang, hadiah, popularitas dan seterusnya. Jadi kalo mau pinter ya sekolah, tapi kalo cerdas tentu bisa menghasilkan uang.

Comments»

No comments yet — be the first.